BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Pemuda Brebes Serahkan Diri ke Polisi, Mengaku Bunuh dan Mutilasi Ayahnya Empat Bulan Lalu

BREBES, Warta Brebes – Kamis malam itu, suasana di Mapolsek Kersana mendadak riuh. Seorang pemuda berjalan masuk dengan tatapan kosong. Warga yang melihatnya langsung berkerumun.

Beberapa dari mereka mengenalinya sebagai Hadi Sunoto (24), pemuda pendiam asal Desa Kemukten yang dikenal penurut dan tak pernah membuat masalah. Namun malam itu, ia datang bukan untuk melapor kehilangan. Ia datang untuk mengaku telah membunuh ayahnya sendiri.

Pengakuan itu mengejutkan banyak pihak. Bukan hanya karena perbuatannya yang sadis—menggorok, memutilasi, merebus, lalu membuang jasad korban ke sungai secara terpisah. Tetapi karena ia melakukannya sekitar empat bulan lalu, dan selama itu tak ada seorang pun yang curiga.

Ketika Ayah Menghilang, Semua Percaya Cerita Itu

Selama berbulan-bulan, keluarga dan tetangga percaya bahwa Waslam—ayah Hadi yang berusia sekitar 50 tahun—sedang merantau.

Hadi bercerita bahwa ayahnya berjualan siomay di Kota Tegal menggunakan sepeda motor. Cerita itu diterima tanpa curiga. Apalagi, Hadi selalu mengatakan bahwa kebutuhan keluarga akan ia tanggung.

Ina (50), bibi Hadi yang tinggal bersebelahan dengan rumah keluarga Waslam, membenarkan hal itu.

Menurutnya, tak ada satu pun tetangga yang merasa ada yang aneh. Ketika istri Waslam bertanya tentang keberadaan suaminya, Hadi selalu punya jawaban.

Cerita itu bertahan selama empat bulan. Sampai akhirnya, Hadi sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri kebohongan itu.

Dendam yang Terpendam Bertahun-tahun

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, Hadi memiliki dendam yang mengendap lama terhadap ayahnya. Waslam disebut malas bekerja dan sering memaksa istrinya untuk membelikan rokok. Kebiasaan itu berlangsung sejak lama, dan perlahan menggerogoti kesabaran Hadi.

Bagi Hadi, ayahnya bukan sosok yang seharusnya dihormati. Ia adalah beban. Ia adalah sumber masalah. Dan selama bertahun-tahun, Hadi menelan semuanya dalam diam. Ia menjadi pemuda yang penurut di luar, tetapi menyimpan amarah yang tak pernah tersalurkan di dalam.

Ina menuturkan bahwa keponakannya itu memang dikenal sangat menyayangi ibu dan kedua adiknya. Sejak kecil, Hadi dikenal sebagai anak yang pintar dan berprestasi. Setelah lulus sekolah, ia giat bekerja apa pun—termasuk di pabrik sepatu—demi menghidupi keluarganya.

Dari hasil kerja di pabrik itulah, Hadi mendapat kesempatan membeli rumah di kompleks perumahan subsidi secara kredit. Namun karena gajinya dianggap tak mencukupi, ia mengundurkan diri dan beralih menjadi pengamen di sekitar wilayah Brebes.

Dua Lokasi, Satu Rahasia Kelam

Setelah Hadi menyerahkan diri, petugas memasang garis polisi di dua tempat yang disebut sebagai lokasi kejadian.

Lokasi pertama adalah rumah yang selama ini ia tinggali bersama ayah, ibu, dan kedua adiknya. Lokasi kedua adalah rumah yang ia beli di salah satu kompleks perumahan, yang jaraknya tak jauh dari rumah keluarga.

Kedua lokasi itu berada di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana. Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan intensif.

Hadi diamankan di Mapolres Brebes dan dimintai keterangan secara mendalam. Polisi juga menggali keterangan dari ibu Hadi, meski belum ada informasi apakah ia mengetahui peristiwa tersebut atau tidak.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai apakah potongan tubuh korban sudah ditemukan. Konon, beredar kabar di media sosial bahwa pelaku membuang jasad ke sungai secara terpisah, tetapi tidak disebutkan apakah pencarian sudah dilakukan atau belum.

Ketika Warga Tahu dari Media Sosial

Taryono, paman Hadi, mengaku terkejut bukan kepalang. Ia baru mengetahui peristiwa itu setelah melihat keramaian polisi di rumah keponakannya. Bukan dari keluarga, bukan dari tetangga—tetapi dari media sosial.

Kegaduhan di dunia maya menyebar lebih cepat dari kabar di kampung. Pengakuan Hadi menjadi viral. Warga yang mengenalnya sebagai pemuda pendiam dan penurut tak bisa membayangkan bahwa di balik wajah tenangnya, tersimpan rahasia yang begitu kelam.

Kasus ini menyisakan banyak pertanyaan. Mengapa kekerasan dalam keluarga bisa berlangsung tanpa terdeteksi? Mengapa Hadi memilih menyimpan dendam selama bertahun-tahun alih-alih mencari bantuan? Dan yang paling mendesak, apakah ada cara untuk mendeteksi dan mencegah tragedi serupa terjadi di keluarga lain?

Di Desa Kemukten, dua rumah kini terpasang garis polisi. Di dalamnya, rahasia empat bulan yang baru terungkap. Dan di luar sana, warga masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa menutupi kematian ayahnya sendiri selama berbulan-bulan—dan bagaimana mungkin tak ada seorang pun yang curiga?

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso