Brebes, Warta Brebes — Sering ngidam makan manis saat stres? Anda tidak sendirian. Banyak orang mengalami hal ini. Perasaan ini seperti penyelamat kecil di tengah hari yang berat. Setelah itu, mood terasa sedikit lebih baik. Momen ini dialami banyak orang, terutama saat lelah secara emosional. Kebiasaan ini bukan sekadar selera. Ada proses biologis di dalam tubuh. Hormon dan zat kimia otak berperan. Makanan manis sering jadi jawaban kebutuhan ini.
Saat Stres, Tubuh Kita Minta Gula
Ketika stres, tubuh memproduksi kortisol lebih tinggi. Hormon ini memicu rasa tegang. Hormon ini juga meningkatkan nafsu makan. Kita jadi tertarik pada makanan manis. Pilihan seperti cokelat menggoda. Kopi susu juga terasa enak. Kadar dopamin dan serotonin otak menurun. Kedua zat ini mengatur rasa bahagia. Tubuh mencari cara cepat mengembalikan keseimbangan. Konsumsi gula meningkatkan hormon itu instan.
Kenapa Efeknya Cepat Hilang?
Efek makanan manis tidak bertahan lama. Rasa nyaman hanya berlangsung sebentar. Sekitar 20 sampai 30 menit. Dopamin kembali turun setelahnya. Tubuh kembali ke kondisi semula. Keinginan makan manis muncul lagi. Pola craving jadi berulang. Kita masuk siklus yang sama. Makanan manis jadi pelarian utama. Dokter Jovita Amelia menjelaskan. Efek ini mirip pola adiktif. Konsumsi gula menyebabkan pelepasan dopamin. Ini seperti obat-obatan adiktif.
Boleh Nggak Sih Self-Reward dengan Makanan Manis?
Memberi reward diri sendiri sah saja. Apalagi setelah hari melelahkan. Hal kecil ini bisa menyenangkan. Selama dilakukan sesekali, tidak masalah. Ini bisa jadi bentuk self-care. Perhatikan frekuensinya. Jika setiap stres direspons manis, tubuh bergantung. Jumlah gula yang dibutuhkan meningkat. Ini berdampak pada kesehatan jangka panjang. Konsumsi gula berlebih memengaruhi berat badan. Metabolisme tubuh terganggu. Risiko diabetes meningkat. Penting mengenali pola ini.
Cara Mengurangi Craving Manis Saat Stres
Jika stres dan craving manis datang, ada alternatif. Olahraga ringan tingkatkan dopamin. Jalan kaki singkat perbaiki mood. Pola makan juga berpengaruh. Konsumsi protein tinggi penting. Kacang-kacangan kaya nutrisi. Sayuran hijau dukung kestabilan emosi. Nutrisi ini mendukung produksi hormon. Efeknya lebih stabil dan bertahan. Istirahat cukup juga penting. Tubuh lelah cenderung mencari pelarian. Coba aktivitas relaksasi. Yoga atau meditasi membantu. Lakukan hobi yang disukai. Kebutuhan emosional terpenuhi. Tidak perlu bergantung pada gula.






