BREBES, Warta Brebes – Gedung Hogwan di kawasan Jalan Lapangan Asri, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, bukan sekadar bangunan tua. Di balik temboknya tersimpan jejak panjang perkembangan industri tapioka dan kehidupan masyarakat Bumiayu sejak masa kolonial.
Bangunan yang kemudian dikenal masyarakat sebagai gedung latihan bulu tangkis itu runtuh pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 05.30 WIB. Material bagian depan bangunan menimpa tiga rumah warga di sekitarnya.
Peristiwa tersebut menewaskan dua anak, Kinara Nafasya Jeslyn atau Nara (4) dan Kinarian Yusfina Arfadhia atau Arfa (6). Keduanya sedang tertidur di dalam rumah ketika material bangunan roboh menimpa tempat tinggal mereka.
Runtuhnya Gedung Hogwan bukan hanya menjadi peristiwa kecelakaan bangunan. Bagi masyarakat Bumiayu, ambruknya gedung tersebut juga menandai hilangnya salah satu jejak fisik dari sejarah panjang industri lokal.
NV Hogwan dan Masa Kejayaan Pabrik Tapioka Bumiayu
Nama Hogwan berkaitan dengan perusahaan NV Hogwan, sebuah pabrik tapioka yang pernah berkembang di Bumiayu. Dalam buku Galuh Purba: Antologi Cerita Rakyat Brebes Selatan yang diterbitkan pada 2018, Novian Fitri Nurani mencatat bahwa pabrik tersebut didirikan oleh keluarga keturunan Tionghoa.
Pabrik NV Hogwan disebut memiliki dua lokasi, yakni di Desa Dukuhturi dan Desa Jatisawit. Keberadaannya menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi yang cukup penting bagi masyarakat Bumiayu pada masa itu.
Kejayaan pabrik tersebut bahkan menarik masyarakat dari berbagai daerah untuk datang dan mencari pekerjaan. Dalam catatan sejarah Desa Dukuhturi, pendirian pabrik tapioka NV Hogwan disebut terjadi sebelum tahun 1900-an.
Artinya, jejak industri Hogwan telah hadir di Bumiayu lebih dari satu abad sebelum bangunan tua di Jalan Lapangan Asri itu akhirnya runtuh pada 2026.
Pabrik Tapioka yang Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Perkembangan NV Hogwan tidak dapat dilepaskan dari posisi Bumiayu sebagai wilayah yang memiliki aktivitas perdagangan dan pertanian cukup kuat.
Ubi kayu atau singkong menjadi salah satu komoditas penting yang mendukung berkembangnya industri tapioka. Pabrik-pabrik pengolahan hasil pertanian pada masa itu tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Museum Purbakala Bumiayu mencatat NV Hoo Gwan sebagai salah satu pabrik tapioka yang pernah berjaya sebelum Perang Dunia II dan pada masa awal kemerdekaan. Pabrik tersebut kemudian berhenti beroperasi pada 1957.
Dengan demikian, nama Hogwan tidak hanya melekat pada sebuah bangunan. Nama tersebut juga berkaitan dengan sebuah fase perkembangan ekonomi Bumiayu ketika industri pengolahan singkong menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Dukuhturi Berkembang Bersamaan dengan Hogwan
Jejak hubungan antara Hogwan dan perkembangan Desa Dukuhturi juga masih tersimpan dalam cerita sejarah masyarakat setempat.
Catatan sejarah Desa Dukuhturi menyebut berdirinya NV Hogwan menjadi magnet bagi penduduk dari luar daerah. Sebagian masyarakat datang karena berharap dapat bekerja di pabrik tersebut.
Perpindahan penduduk itu kemudian ikut membentuk perkembangan sosial dan ekonomi Dukuhturi. Bahkan, catatan sejarah desa menyebut sebagian pekerja berasal dari wilayah Pesayangan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.
Setelah aktivitas NV Hogwan berhenti, aset perusahaan kemudian mengalami perubahan pengelolaan. Catatan sejarah Desa Dukuhturi menyebut pada sekitar 1961, aset bekas NV Hogwan beralih melalui PT Bumiayu setelah perubahan kebijakan agraria.
Sebagian aset tanah bekas perusahaan tersebut kemudian berkaitan dengan kawasan Lapangan Asri yang hingga kini dikenal masyarakat Bumiayu.
Bukan Hanya Satu Bangunan
Jejak fisik NV Hogwan ternyata tidak hanya berada di kawasan Dukuhturi. Buku Galuh Purba mencatat keberadaan kompleks pabrik di Desa Jatisawit yang dikenal masyarakat dengan sebutan Crustine.
Kompleks tersebut digambarkan sebagai kawasan pabrik yang cukup luas dan tertata. Di dalamnya terdapat cerobong asap besar yang digunakan dalam proses pembakaran serta dilengkapi penangkal petir.
Bangunan dan sisa fasilitas tersebut menjadi bukti fisik bahwa industri tapioka pernah memainkan peran penting dalam sejarah Bumiayu.
Berakhirnya Masa Kejayaan NV Hogwan
Sejumlah sumber sejarah lokal menyebut aktivitas NV Hogwan berakhir setelah terjadi perubahan besar pada situasi politik dan keamanan. Museum Purbakala Bumiayu mencatat pabrik tersebut akhirnya tutup pada 1957.
Sementara itu, cerita mengenai masa akhir pabrik juga berkembang dalam berbagai versi di tengah masyarakat. Buku Galuh Purba secara khusus mencatat adanya beragam cerita mengenai peristiwa yang terjadi pada masa peralihan kekuasaan.
Bagian tersebut penting dibaca secara hati-hati. Cerita mengenai kerusuhan, korban, maupun sumur tua yang dikaitkan dengan masa tersebut merupakan bagian dari cerita yang berkembang di masyarakat dan tidak semuanya dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Gedung Hogwan Berubah Menjadi Tempat Latihan Bulu Tangkis
Setelah tidak lagi menjadi bagian dari aktivitas industri tapioka, bangunan Hogwan di Dukuhturi kemudian memiliki fungsi yang berbeda.
Masyarakat memanfaatkannya sebagai tempat latihan bulu tangkis. Fungsi tersebut membuat bangunan tua itu tetap memiliki aktivitas di tengah perkembangan permukiman di sekitarnya.
Namun, usia bangunan yang sangat tua membuat kondisi konstruksinya menjadi perhatian tersendiri. Hingga akhirnya, bagian depan Gedung Hogwan runtuh pada Minggu pagi dan materialnya menghantam rumah warga.
Runtuhnya Hogwan Menjadi Duka Bumiayu
Runtuhnya bangunan tersebut kini meninggalkan persoalan yang jauh lebih berat daripada sekadar kehilangan sebuah bangunan tua.
Tiga rumah warga terdampak reruntuhan. Dua anak kehilangan nyawa. Tim gabungan juga sempat melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertimbun.
Alat berat kemudian dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi material bangunan yang menimpa rumah warga.
Peristiwa ini sekaligus mengingatkan pentingnya pendataan dan pengamanan bangunan tua yang masih berada di tengah kawasan permukiman. Bangunan bersejarah memiliki nilai penting, tetapi keselamatan warga tetap harus menjadi prioritas.
Warisan Sejarah yang Tidak Semestinya Hilang Begitu Saja
Ambruknya Gedung Hogwan menjadi kehilangan bagi Bumiayu. Namun, sejarahnya tidak harus ikut runtuh bersama tembok yang roboh.
Jejak NV Hogwan masih dapat ditelusuri melalui arsip, buku sejarah lokal, kesaksian masyarakat, serta sisa-sisa bangunan peninggalannya. Buku Galuh Purba: Antologi Cerita Rakyat Brebes Selatan menjadi salah satu dokumen penting yang merekam keberadaan pabrik tersebut. Buku itu diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah dan tersedia melalui repositori resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sejarah Hogwan menunjukkan bahwa Bumiayu pernah memiliki denyut industri yang kuat. Pabrik tapioka itu pernah menarik tenaga kerja, menggerakkan ekonomi, dan meninggalkan pengaruh terhadap perkembangan kawasan.
Kini, salah satu bangunan yang menjadi bagian dari ingatan tersebut telah runtuh. Yang tersisa adalah sejarah, arsip, cerita masyarakat, dan pekerjaan penting untuk memastikan warisan masa lalu Bumiayu tetap terdokumentasi.
Sebagai catatan lain, terkait penulisan nama menggunakan “Hogwan” saat ini mengikuti pemberitaan dan sumber sejarah lokal. Dalam sejumlah sumber, nama perusahaan juga ditulis “Hoo Gwan”. Klaim bahwa bangunan tersebut tepat berusia 125 tahun belum kami jadikan fakta utama karena sumber primer yang kami temukan lebih hati-hati menyebut keberadaan NV Hogwan di Dukuhturi sudah ada sebelum tahun 1900-an.
























