BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Senyap di Bawah Reruntuhan Seratus Tahun, Tiga Nyawa Melayang

BREBES, Warta Brebes — Minggu (30/8/2026) pagi di Desa Dukuhturi masih diselimuti sunyi. Di rumah-rumah yang berderet di Jalan Lapangan Asri, udara dingin khas pegunungan selatan Brebes masih terasa. Lampu-lampu belum banyak yang menyala. Pukul 05.30, sebagian besar warga masih terlelap.

Di salah satu rumah, Kinara Nafasya Jeslyn—yang akrab dipanggil Nara—masih memeluk bantalnya. Usianya baru empat tahun. Di sebelahnya, sang kakak, Kinarian Yusfina Arfadhia atau Arfa, yang genap berusia delapan tahun, juga masih tertidur pulas. Mereka adalah anak-anak dari pasangan Feti, warga setempat.

Mereka tak pernah tahu, di luar sana, dinding setebal harapan telah retak.

Tak ada suara gemuruh yang menggelegar. Tak ada getaran yang membangunkan warga. Yang ada hanyalah bunyi deru pelan, seperti raksasa yang menghela napas panjang—lalu reruntuhan dari masa lalu ambruk menimpa masa kini.


Ketika Usia Menjadi Beban yang Tak Terlihat

Gedung Hogwan bukanlah bangunan sembarangan. Ia adalah sisa-sisa kejayaan masa kolonial, sebuah pabrik tepung tapioka yang didirikan sekitar tahun 1920. Lebih dari satu abad, tembok-temboknya menyaksikan pergantian zaman: dari hiruk-pikuk mesin penggiling singkong, hingga sunyi yang hanya diisi oleh kok bulu tangkis yang dipukul warga yang memanfaatkannya sebagai lapangan olahraga.

Namun pada Minggu pagi itu, usia yang sudah lampau akhirnya menagih janji. Bagian selatan bangunan yang membentang sekitar 10 x 10 meter itu ambruk. Ratusan ton batu bata dan plester jatuh, menimpa tiga rumah warga di depannya—milik Feti, Marto, dan Imam. Jalan kabupaten tertutup total. Akses terputus. Dan di bawah tumpukan material, dua anak kecil terkubur dalam tidur abadi mereka.

“Nara… Arfa…” nama mereka bergema di antara deru mesin alat berat yang dikerahkan untuk evakuasi. Tapi tak ada jawaban.

Di Balik Tembok yang Runtuh, Ada Nyawa yang Tertahan

Korban tak berhenti pada dua anak.

Di tengah kepanikan, keluarga Khanzat kehilangan jejak lelaki tua berusia 85 tahun itu. Saksi mata mengaku terakhir melihatnya di sekitar lokasi sebelum tembok ambruk. “Pihak keluarga juga mengaku kehilangan Khamzat, jadi ada dugaan turut menjadi korban,” ujar Sekdes Dukuhturi, Andi Kuswoyo.

Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, kepolisian, dan relawan bergerak cepat. Alat berat dikerahkan, tapi setelah material besar disingkirkan, pencarian dilanjutkan secara manual—tangan-tangan manusia yang menyisir puing, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan. Atau setidaknya, kepastian.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 13.45 WIB, jenazah Khanzat ditemukan di bagian depan rumah warga yang turut tertimpa reruntuhan. Koordinator Satgas PB BPBD Brebes Pos Bumiayu, Budi Sujatmiko, mengatakan pencarian dilakukan dengan alat berat untuk mengangkat material besar, dilanjutkan secara manual hingga korban terlihat.

“Upaya pencarian dilakukan dengan dibantu alat berat untuk mengangkat material berukuran besar. Dilanjutkan secara manual, hingga akhirnya korban terlihat,” jelas Budi.

Khanzat dievakuasi menuju RSUD Bumiayu. Dengan ditemukannya dirinya, jumlah korban jiwa dalam tragedi ini menjadi tiga orang.

Tiga Nyawa, Satu Pertanyaan yang Menggantung

Tiga nyawa—dua anak yang masih polos dan seorang kakek yang mungkin hanya ingin melihat apa yang terjadi—menjadi korban dari kelalaian yang tak terlihat. Gedung Hogwan berdiri selama lebih dari 100 tahun. Selama itu pula, tak ada yang benar-benar memperhatikan retakan yang merambat di temboknya. Tak ada yang menghitung berapa lama lagi dinding itu bisa bertahan.

Plt Camat Bumiayu, Hendra Pradistyo, mengonfirmasi bahwa bangunan itu sudah tidak terawat. Warga hanya memanfaatkannya sebagai tempat olahraga. Tapi siapa yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka? Siapa yang memastikan bahwa puing-puing masa lalu tak akan menimpa masa depan?

“Bangunan yang roboh berada di sebelah barat Lapangan Asri, tepatnya di wilayah RW 03 Desa Dukuhturi,” kata Hendra.

Kini, tiga rumah warga rusak parah. Tiga keluarga kehilangan anggota tercinta. Dan di tengah tumpukan batu bata yang masih berserakan, satu pertanyaan menggantung di udara: berapa banyak lagi bangunan tua di negeri ini yang diam-diam mengancam?

Saat Senja Tiba

Saat senja tiba, langit Bumiayu berwarna jingga. Di bawahnya, tim gabungan masih membersihkan material. Para ibu masih menangis. Dan Arfa, Nara, serta Khanzat—tiga nama yang tak akan pernah kembali—menjadi pengingat bahwa sejarah, jika dibiarkan, bisa berubah menjadi tragedi kapan saja.

Di kejauhan, suara alat berat masih menderu. Namun di hati para keluarga, yang tersisa hanyalah keheningan yang tak berujung. (*)

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso