BREBES, Warta Brebes – Denyut ekonomi Pasar Induk Brebes kian melemah. Ratusan kios dan lapak di pusat perdagangan terbesar di Kabupaten Brebes itu kini tutup dan ditinggalkan pemiliknya.
Sejumlah pedagang memilih menyerah setelah berbulan-bulan menghadapi sepinya pembeli, sementara kebutuhan hidup dan beban utang terus menghimpit.
Saat masuk ke dalam, suasana sat ini sudah jauh berbeda. Sepi, deretan kios terlihat tertutup rapat. Sebagian lapak bahkan tampak kosong tanpa aktivitas. Barang dagangan yang belum terjual masih tersimpan di dalam kios, menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
Pedagang yang masih tersisa pun mengaku semakin sulit bertahan karena pendapatan yang terus merosot tidak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga maupun kewajiban membayar cicilan pinjaman.
Penjualan Anjlok, Utang Pedagang Terus Membengkak
Tasripin, salah seorang pedagang bumbu dapur yang sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Induk Brebes, mengaku kondisi saat ini merupakan yang paling berat sepanjang dirinya berdagang.
Jika sebelumnya ia mampu menjual sekitar 10 kilogram bumbu dapur dalam sehari, kini untuk menghabiskan lima kilogram saja membutuhkan waktu hingga tiga hari.
Akibatnya, pemasukan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun terpaksa terus menambah pinjaman agar dapur tetap mengepul.
“Jualan di sini sudah lama dan dari sini kebutuhan keluarga kami terpenuhi. Dulu satu hari bisa habis 10 kilogram. Sekarang lima kilogram baru habis tiga hari. Mau tidak mau utang terus bertambah,” ujar Tasripin saat ditemui di lapaknya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dialami dirinya, tetapi hampir seluruh pedagang di Pasar Induk Brebes merasakan hal serupa.
Sayuran Tak Laku, Banyak Dagangan Layu Sebelum Terjual
Keluhan yang sama disampaikan Sukardi (66), pedagang sayur Pasar Induk Brebes yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari aktivitas jual beli di pasar tersebut.
Pria lanjut usia itu mengatakan jumlah pembeli terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan dengan pedagang yang berjualan di luar area pasar juga semakin memperparah kondisi.
Akibatnya, banyak sayuran yang tidak habis terjual hingga sore hari dan akhirnya layu sebelum menghasilkan keuntungan.
“Pembeli semakin sepi. Sampai sore barang masih banyak yang tersisa. Kadang sayuran keburu layu. Kami berharap pemerintah bisa menata pedagang yang berjualan di luar pasar supaya masuk ke dalam pasar,” kata Sukardi.
Menurutnya, keberadaan pedagang di luar kawasan pasar membuat masyarakat lebih memilih berbelanja di pinggir jalan karena dianggap lebih praktis dan mudah dijangkau.
Ratusan Kios Pasar Induk Brebes Tutup, Aktivitas Pasar Kian Menurun
Sejumlah pedagang mengaku memilih menutup lapaknya karena tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional. Selain harus membeli barang dagangan, mereka juga dibebani cicilan pinjaman koperasi maupun perbankan.
Sebagian pedagang bahkan sudah meninggalkan kios mereka selama berbulan-bulan karena tidak lagi memiliki modal untuk melanjutkan usaha.
Jika kondisi ini terus berlanjut, para pedagang khawatir Pasar Induk Brebes yang selama ini menjadi salah satu pusat ekonomi masyarakat akan semakin kehilangan geliatnya.
Pemerintah Akui Kondisi Pasar Sedang Sulit
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kabupaten Brebes, Tirto Agung Kumara, membenarkan adanya ratusan kios dan lapak yang terpaksa tutup.
Menurutnya, melemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan banyak pedagang tidak mampu bertahan.
Selain itu, perlambatan ekonomi juga berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
“Salah satu faktornya memang daya beli masyarakat menurun dan kondisi ekonomi sedang melambat, sehingga sebagian pedagang memilih menutup kios dan lapaknya,” ujarnya.
Tirto menegaskan pemerintah daerah tidak tinggal diam. Penataan pasar secara bertahap akan dilakukan sesuai kemampuan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah.
Selain itu, Pemkab Brebes juga telah mengusulkan program revitalisasi pasar kepada pemerintah pusat sebagai upaya menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.
“Kami akan melakukan penataan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah. Selain itu, revitalisasi seluruh pasar juga sudah kami usulkan ke pemerintah pusat,” tandasnya.
Pasar Tradisional Menghadapi Persaingan Online
Lesunya Pasar Induk Brebes menjadi potret nyata tantangan yang sedang dihadapi pasar tradisional di tengah perlambatan ekonomi dan perubahan pola belanja masyarakat.
Masyrakat kini dimanjakan dengan kemudahan belanjakan online di berbagai platform. Dari media sosial hingga marketplace menawarkan pembeli hanya tinggal mainkan jari dan belanjaan pun datang.
Padahal, di satu sisi, pedagang harus berjuang mempertahankan usaha yang menjadi sumber nafkah keluarga. Namun di sisi lain, menurunnya daya beli dan semakin ketatnya persaingan membuat mereka berada dalam situasi yang sulit.
Bagi sebagian pedagang, bertahan bukan lagi soal mencari keuntungan, melainkan sekadar agar roda kehidupan tetap berjalan dan utang yang terus menumpuk tidak semakin membebani keluarga.
























