BREBES, Warta Brebes – Permukaan air Waduk Penjalin di Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, terus menyusut di tengah kemarau yang masih berlangsung.
Elevasi muka air waduk pada Kamis (10/9/2026) tercatat mencapai 335,66 meter. Angka tersebut menjadi elevasi terendah yang tercatat selama musim kemarau tahun ini.
Data Pos Jaga BPSDA Pemali Comal Waduk Penjalin menunjukkan, elevasi tersebut terpaut cukup jauh dari kondisi normal yang berada di angka 339,50 meter.
Pasokan Air Waduk Penjalin Terus Menurun
Koordinator Petugas Pintu Waduk Penjalin, Purwanto, mengatakan penyusutan muka air terjadi karena pasokan dari sejumlah alur sungai yang menjadi sumber air waduk ikut menurun.
Kondisi tersebut terjadi seiring kemarau yang membuat debit aliran sungai di sekitar waduk semakin kecil.
Selain berkurangnya pasokan air, penyusutan juga terjadi karena air waduk tetap dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan.
“Selain karena menurunnya suplai air dari sejumlah alur sungai sebagai sumber yang terjadi akibat kemarau, juga karena dilakukannya suplesi untuk pengairan selama 15 hari kemarin,” jelas Purwanto.
Menurut dia, Waduk Penjalin memang memiliki fungsi penting sebagai tempat penyimpanan cadangan air. Saat kemarau, air waduk dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan.
“Biasanya, saat kemarau air dimanfaatkan untuk pendistribusian pengairan,” jelasnya.
Sudah Lewati Catatan Elevasi Terendah Sebelumnya
Penurunan muka air Waduk Penjalin kali ini juga menjadi perhatian karena elevasinya sudah berada di bawah catatan terendah pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang tersedia, elevasi terendah sebelumnya tercatat 337,94 meter. Kondisi tersebut terjadi pada 2014 dan 2015.
Dengan elevasi 335,66 meter pada Kamis, posisi muka air tahun ini berada sekitar 2,28 meter di bawah catatan tersebut.
“Dalam fungsinya, penggunaan air sebagai cadangan di saat kondisi pengairan dari sumber lainnya sudah tidak memadai akibat kondisi cuaca,” kata Purwanto.
Menurunnya elevasi menunjukkan cadangan air Waduk Penjalin semakin terbatas. Namun, pemanfaatan air tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan wilayah yang bergantung pada suplai waduk.
Warga di Dataran Tinggi Mulai Kesulitan Air Bersih
Dampak kemarau tidak hanya terlihat dari menyusutnya permukaan Waduk Penjalin. Sejumlah warga di sekitar kawasan waduk juga mulai merasakan berkurangnya ketersediaan air bersih.
Beberapa pedukuhan di Desa Winduaji yang berada di wilayah dataran tinggi mengalami penyusutan air sumur.
Kepala Desa Winduaji, Abdurrahman, mengatakan kondisi geografis membuat sebagian warga tetap kesulitan mendapatkan air meskipun tinggal tidak jauh dari waduk.
“Letak pedukuhan berada di wilayah dataran tinggi. Kebanyakan air sumur warga sudah menyusut saat ini, sehingga warga cukup kesulitan mendapat air bersih,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat kemarau tahun ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan air untuk pengairan. Warga di sejumlah wilayah tinggi juga mulai menghadapi persoalan kebutuhan air bersih.


























