PEMALANG, Warta Brebes — Di bawah langit yang mulai mengatup dan cahaya lampu yang memantulkan bayang-bayang ke tiang-tiang kayu tua, sebuah kisah tentang luka yang lama dipendam menemukan tubuhnya di atas panggung.
Sabtu malam, 20 Juni 2026, Pendopo Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, seakan berubah menjadi ruang batin tempat ingatan, pengorbanan, dan kesunyian seorang perempuan berbicara melalui bahasa teater.
Adalah TEATER ART, unjuk penampilan naskah Hati Seorang Wanita, sebuah lakon yang ditulis oleh Bandy Irawan dan disutradarai Raden Mas Panji Asmoro Sroentoel.
Malam itu, belum benar-benar larut ketika kidung tua mulai mengalun. Pertunjukan tidak serta-merta dimulai dengan dialog dan gerak.
Suara kidung yang dilantunkan Mbah Slamet Cepet bersama denting alat musik Bungbak khas Pemalang terlebih dahulu menghamparkan suasana yang khusyuk. Ada semacam kesan bahwa panggung hendak mengajak penonton menanggalkan hiruk-pikuk sehari-hari sebelum memasuki ruang batin yang lebih sunyi.
Dan, bunyi Bungbak khas Pemalang yang dimainkan Mbah Slamet Cepet perlahan mengisi ruang, seperti mengetuk ingatan yang lama terpendam.
Pendopo itu tak lagi sekadar bangunan tempat urusan pemerintahan diselesaikan. Ia menjelma menjadi rumah bagi suara-suara yang selama ini lebih sering memilih diam.
Di tempat itulah TEATER ART mementaskan Hati Seorang Wanita, sebuah lakon yang mengisahkan luka, pengorbanan, dan pergulatan batin yang tak selalu tampak di permukaan.
Pementasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Ngapak Womens Teaterfest 2026, festival yang digagas Teater Satu Kamar Indonesia dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan LPDP melalui program pemajuan kebudayaan.
Namun, malam itu sesungguhnya bukan semata tentang sebuah pertunjukan.
Ia adalah perjumpaan antara kesunyian dan kata-kata.
Ia adalah upaya menghadirkan kembali pengalaman perempuan yang sering kali tersisih dari riuhnya kehidupan sehari-hari.
Hati Seorang Wanita dan Luka yang Tidak Selalu Bersuara
Ditulis oleh Bandy Irawan dan disutradarai Raden Mas Panji Asmoro Sroentoel, Hati Seorang Wanita tidak menghadirkan kisah besar tentang kemenangan atau kepahlawanan.
Lakon ini justru berjalan di lorong yang lebih sunyi.
Ia berbicara tentang luka yang disembunyikan di balik senyum, tentang pengorbanan yang dianggap biasa, dan tentang ketabahan yang jarang memperoleh tepuk tangan.
Melalui permainan Bandy Irawan, Ani Tursini, Joko Susilo, dan Inayah, kisah itu menjelma menjadi tubuh dan suara. Dukungan artistik dari Jingga Rahma membuat setiap adegan seolah memiliki denyutnya sendiri.
Tak banyak ledakan emosi yang dipaksakan.
Yang tertinggal justru diam.
Dan kadang-kadang, diam mempunyai cara paling nyaring untuk menyampaikan kepedihan.
Di Balik Panggung, Ada Kesabaran yang Tidak Tampak
Seperti kehidupan itu sendiri, pementasan tersebut tidak lahir dari jalan yang sepenuhnya mulus.
Kesibukan para pemain sempat menjadi tantangan bagi sang sutradara. Menyatukan waktu latihan di tengah aktivitas masing-masing bukan perkara mudah.
Namun, bagi Raden Mas Panji Asmoro Sroentoel, teater selalu dimulai dari kesediaan untuk menyingkirkan ego.
“Kerja teater adalah kolektif yang mengharuskan menghilangkan ego. Di tengah kesibukan para pemain saya kesulitan memadukan proses latihan. Namun demikian, bukan sutradara jika hal ini menjadikan surut semangat,” ujarnya.
Barangkali, di situlah letak hakikat teater.
Ia tidak dibangun oleh seseorang.
Ia lahir dari banyak tangan yang saling menopang.
Ngapak Womens Teaterfest 2026 dan Harapan yang Terus Menyala
Ngapak Womens Teaterfest 2026 telah mempertemukan berbagai kelompok teater dari sejumlah wilayah di Kabupaten Pemalang. Festival ini menghadirkan karya-karya yang berbicara tentang keberanian, pengalaman, dan perjuangan perempuan melalui bahasa panggung.
Bagi Joko Susilo, salah seorang pemain, hadirnya festival tersebut merupakan angin segar bagi kehidupan seni di Pemalang.
“Saya sangat senang bisa ikut terlibat dalam kegiatan seni di Pemalang. Harapannya Ngapak Womens Teater Fest 2026 ini bisa menjadi stimulator untuk menghidupkan seni peran teater, sekaligus momentum regenerasi talenta-talenta seniman muda, khususnya di Kabupaten Pemalang,” katanya.
Malam itu turut dihadiri pasangan penyair Dr. Dedek JW bersama Niktasa Faith, Suhari Putra Senja, Heru Taheran, Jacky Cun, Salamsih, Aji SN, serta sejumlah pegiat seni budaya lainnya.
Rangkaian festival akan mencapai penutup pada Sabtu, 27 Juni 2026, melalui penampilan Teater APEM di Pendopo Kecamatan Pemalang.
Tetapi sesungguhnya, sebagaimana setiap pertunjukan yang baik, yang berakhir hanyalah tepuk tangan.
Sedangkan suara-suara yang sempat hidup di atas panggung itu, kadang terus tinggal dalam ingatan.
Dan pada malam di Pendopo Kecamatan Taman itu, seorang perempuan—dengan segala luka, kesabaran, dan ketabahannya—akhirnya memperoleh kesempatan untuk didengar.


























