BERITA TERBARU
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Kesehatan
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Operasi SAR Ditutup, Lansia Hilang di Hutan Paguyangan Belum Ditemukan Setelah 7 Hari Pencarian

BREBES, Warta Brebes – Harapan menemukan Naruh (78), warga Dukuh Kedawung RT 15 RW 03, Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, akhirnya harus pupus setelah operasi pencarian resmi dihentikan pada Sabtu (5/7/2026). Selama tujuh hari penyisiran, tim SAR gabungan tidak menemukan satu pun petunjuk yang mengarah pada keberadaan lansia yang dilaporkan hilang sejak Minggu (28/6) tersebut.

Basarnas Unit Siaga SAR (USS) Brebes menutup operasi setelah seluruh prosedur pencarian sesuai standar telah dijalankan. Keputusan itu diambil karena seluruh area prioritas sudah disisir tanpa hasil.

Wakil Komandan USS Basarnas Brebes, Anggi Endra M, memimpin langsung penutupan operasi bersama seluruh unsur SAR gabungan.

Tim Perluas Radius Hingga Lima Kilometer

Pada hari terakhir operasi, tim kembali memperluas pencarian dengan membagi personel ke dalam dua Search and Rescue Unit (SRU).

SRU 1 menyisir jalur dari rumah korban menuju arah timur mengikuti aliran sungai kering hingga kawasan Petak 28 Perhutani dengan radius sekitar empat kilometer.

Sementara SRU 2 bergerak menuju kawasan hutan di petak yang sama, kemudian menyisir ke arah utara hingga cakupan pencarian mencapai sekitar lima kilometer.

Koordinator Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Pos Bumiayu, Budi Sujatmiko, mengatakan seluruh lokasi yang dicurigai sudah diperiksa.

“Meski area pencarian telah diperluas dan berbagai titik yang dicurigai telah diperiksa, keberadaan Naruh belum juga ditemukan,” ujarnya.

Korban Pergi Sejak Sore, Keluarga Baru Melapor Malam Hari

Naruh diketahui meninggalkan rumah pada Minggu (28/6) sekitar pukul 17.00 WIB.

Keluarga baru melaporkan kehilangan korban kepada Pos BPBD Brebes Wilayah Bumiayu sekitar pukul 21.00 WIB setelah korban tak kunjung pulang.

Menurut keluarga, Naruh mengalami pikun sehingga sering berjalan sendiri di sekitar rumah.

Saat terakhir terlihat, korban mengenakan baju koko putih, celana pendek hitam, sandal jepit, dan peci hijau-kuning.

Keluarga menduga korban berjalan menuju kebun di belakang rumah atau ke sungai kecil tempat ia biasa membuang sampah sebelum akhirnya tersesat.

Medan Terjal Hambat Pencarian

Selama operasi berlangsung, tim menghadapi medan yang tidak mudah.

Vegetasi lebat, kawasan hutan yang luas, hingga perbukitan dengan kontur terjal membuat proses penyisiran harus dilakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian.

Meski demikian, seluruh unsur SAR tetap memaksimalkan pencarian dengan memperluas radius setiap hari.

Operasi Berakhir, Warga Tetap Melanjutkan Pencarian

Kepala Desa Wanatirta, Darto, menegaskan penghentian operasi SAR bukan berarti seluruh upaya pencarian ikut berakhir.

Pemerintah desa bersama warga dan relawan akan terus melakukan pencarian secara mandiri.

“Kami bersama warga dan relawan tetap akan melakukan ikhtiar. Pihak keluarga juga sudah menyatakan keikhlasannya atas musibah yang terjadi ini,” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Muhajir, mengatakan keluarga masih rutin menggelar doa bersama sejak hari kedua korban dinyatakan hilang.

Ia berharap masih ada informasi yang dapat mengungkap keberadaan Naruh.

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Meski operasi SAR resmi ditutup, keluarga dan pemerintah desa meminta masyarakat tetap membantu memberikan informasi apabila menemukan seseorang dengan ciri-ciri yang menyerupai korban.

Warga diminta segera melapor kepada pemerintah desa atau aparat kepolisian apabila memperoleh informasi yang berkaitan dengan keberadaan Naruh agar dapat segera ditindaklanjuti.

Operasi pencarian ini melibatkan Basarnas USS Brebes, BPBD Brebes, TNI, Polri, Pemerintah Kecamatan Paguyangan, Pemerintah Desa Wanatirta, Satgas Penanggulangan Bencana, RSP, MDMC, RAPI, Destana Wanatirta, serta ratusan warga yang secara bergantian menyisir kawasan hutan, kebun, dan aliran sungai selama tujuh hari.

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso