Rupiah Tertekan Menjelang Libur Nasional, BI Lakukan Intervensi

JAKARTA, Warta Brebes — Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami pelemahan signifikan menjelang libur nasional pada Selasa (26/5/2026). Tekanan eksternal global yang kian meningkat menjadi penyebab utama kekhawatiran ini.

Pasar domestik terpantau melemah karena terbatasnya ruang intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar dalam negeri, obligasi, dan surat utang negara saat hari libur.

Ancaman Pelemahan Rupiah Akibat Eskalasi Geopolitik

Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas, menyatakan keprihatinannya atas potensi pelemahan rupiah. “Pelemahannya begitu mengkhawatirkan, apalagi besok di libur nasional yang kemungkinan besar tekanan eksternal ini akan cukup tinggi. Bank Indonesia (BI) tidak bisa melakukan intervensi di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara sehingga hanya di pasar internasional. Ini akan membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.

Faktor geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar. Munculnya laporan mengenai serangan Amerika Serikat ke wilayah Iran memicu eskalasi baru yang mengkhawatirkan. Sentimen negatif ini diperparah oleh konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina di Eropa Timur, serta ketegangan yang melibatkan Israel di kawasan Lebanon.

Kondisi eksternal tersebut memicu pergeseran modal ke aset aman seperti dolar AS. Dolar AS menguat, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut melonjak hingga menyentuh kisaran US$ 92 per barel.

Dampak Tekanan Eksternal Terhadap Defisit Transaksi Berjalan

Sebagai negara importir minyak, Indonesia menghadapi peningkatan kebutuhan valuta asing untuk pembiayaan impor energi. Hal ini secara langsung membebani ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Tekanan terhadap mata uang rupiah ini tercermin dari melebarnya defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2026. Angkanya mencapai US$ 4,0 miliar atau setara 1,1% dari produk domestik bruto. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebesar US$ 2,5 miliar.

Situasi ini semakin menantang karena penyusutan surplus neraca perdagangan terjadi bersamaan dengan peningkatan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di dalam negeri sepanjang Januari-Mei 2026. Ibrahim Assuaibi menambahkan, “Kemudian yang kedua kita lihat bahwa dampak dari kenaikan harga minyak ini pun juga sudah berdampak terhadap PHK massal ya di Indonesia. Nah kita melihat bahwa PHK massal dari bulan Januari ya sampai di bulan Mei ini pun juga meningkat cukup tajam.”

Kombinasi tekanan rantai pasok global dan perlambatan industri yang bergantung pada material impor dinilai mempercepat pembengkakan risiko fiskal domestik. Ibrahim memprediksi, “Kelemahan cukup tajam ini ini akan berdampak terhadap rupiah dalam minggu ini kemungkinan besar target Rp 18.000 per dolar AS kemungkinan besar akan tercapai.”

Pemerintah kini dituntut untuk mengantisipasi pergeseran persepsi investor global. Langkah ini penting guna mencegah penurunan penilaian dari lembaga pemeringkat kredit internasional akibat pelebaran risiko kembar yang mengancam stabilitas ekonomi. Rupiah harus dijaga agar tidak terus melemah di tengah ketidakpastian global dan tantangan domestik.

Bagikan: