BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Tion Iswanto, Tunanetra Brebes Lulus Sarjana PAI UNJ IPK 3,84

BREBES, Warta Brebes – Di sebuah kos sempit di Rawamangun, Jakarta Timur, seorang pemuda bangun sebelum matahari terbit. Ia bukan siapa-siapa di kota besar itu. Hanya seorang perantau dari Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Namun pagi itu, ia bersiap untuk sesuatu yang tak pernah ia bayangkan saat masih duduk di bangku kelas enam SD: mengenakan toga, menerima gelar sarjana.

Namanya Tion Iswanto. Ia tunanetra total. Dan pada Wisuda Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Tahun Akademik 2025/2026, ia menuntaskan studi Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (PAI FISH), dengan indeks prestasi kumulatif 3,84. Lulus tepat waktu dalam empat tahun—sebuah capaian yang bahkan sulit diraih oleh mereka yang bisa melihat.

Enam Operasi, Dua Tahun Berhenti Sekolah

Tion kehilangan penglihatan pada usia 13 tahun. Ia menjalani enam kali operasi mata di RS Cicendo, Bandung—empat kali pada mata kanan, dua kali pada mata kiri. Semuanya gagal. Penglihatannya tak pernah kembali.

“Dengan ketunanetraan ini, saya sempat berhenti sekolah selama dua tahun,” kata Tion, seperti dikutip dari laman resmi UNJ.

Dua tahun adalah waktu yang panjang bagi seorang remaja. Banyak yang akan menyerah. Tapi Tion tidak. Pada 2015, ia melanjutkan pendidikan di SLB Agro Industri. Setahun kemudian, ia pindah ke Sekolah Khusus Islam Terpadu (SKh-IT) Yarfin, menempuh SMPLB hingga SMALB selama enam tahun, dan lulus pada 2022.

Dari situlah keyakinan yang kini ia pegang teguh mulai tumbuh: keterbatasan bukan berarti terbatas, tetapi dapat melampaui keterbatasan itu sendiri.

Jalan Menuju Jakarta

Pada 2022, Tion memutuskan merantau ke Jakarta untuk kuliah di UNJ. Aksesibilitas menjadi pertimbangannya. Fasilitas kampus memang belum merata, tetapi transportasi umum seperti Transjakarta membantunya bergerak. Digitalisasi pembelajaran membuatnya bisa mengikuti kuliah secara mandiri.

Ia menggunakan komputer bicara untuk mengakses bahan ajar, media, hingga evaluasi perkuliahan. Teknologi itu menjadi matanya di dunia akademik.

“Digitalisasi mulai dari bahan ajar, media, sampai evaluasi sangat membantu saya mengakses dengan mandiri, karena saya sudah menguasai teknologi komputer bicara. Selain itu, dosen-dosennya sangat inklusif,” jelasnya.

Tion memilih PAI karena ingin menjadi guru inklusi. Pengalaman belajarnya menunjukkan bahwa materi pendidikan agama masih terlalu berpusat pada visual. Tanpa deskripsi yang memadai, peserta didik tunanetra akan kesulitan. Dari kegelisahan itulah tekadnya tumbuh: ia ingin memperluas aksesibilitas kurikulum, terutama Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Selama kuliah, Tion tinggal sendiri. Ia memasak, mencuci, dan mengurus kebutuhan sehari-hari tanpa bantuan. Biaya pendidikannya terbantu beasiswa ADik bagi mahasiswa penyandang disabilitas. “Beasiswa ini sangat membantu saya untuk menuntaskan perkuliahan,” katanya.

Prestasi yang Tak Pernah Berhenti

Jauh sebelum kuliah, Tion sudah menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang. Pada 2017, ia meraih Juara 1 Jambore TIK Regional Yogyakarta dan Juara 2 Nasional kategori Microsoft Word & Excel remaja disabilitas.

Dua tahun kemudian, ia terbang ke Busan, Korea Selatan, mewakili Indonesia dalam Global IT Challenge (GITC) 2019. Ia pulang membawa Medali Perak eContent’s Challenge dan Super Challenger Award—sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa tunanetra bisa bersaing di panggung internasional.

Di ranah organisasi, ia pernah menjadi Ketua Program Mahasiswa Tunanetra Mandiri (MTM) PAI UNJ dan terlibat dalam kepanitiaan HUT ke-59 DPP Pertuni pada 2025.

Kampus yang Belum Sepenuhnya Inklusif

Meski bersyukur, Tion tak menutup mata—secara kiasan—terhadap kekurangan kampusnya. Ia menilai jalur pemandu atau guiding block di dalam dan luar gedung belum merata. Ia berharap UNJ melibatkan mahasiswa tunanetra dalam perencanaan fasilitas aksesibilitas agar sarana yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan.

Di ruang kelas, ia masih menemukan materi visual tanpa penjelasan verbal. Ketika dosen menampilkan gambar, ia meminta bantuan teman terdekat untuk mendeskripsikan. LMS kampus dinilainya aksesibel, meski gambar di dalamnya belum selalu dilengkapi teks deskripsi.

“Tunanetra tidak perlu dikasihani, tetapi didukung,” tegasnya.

Dukungan datang dari banyak pihak. Dosen pembimbingnya, Andy Hadiyanto dan Ahmad Hakam, membimbingnya lewat media digital tanpa mengharuskannya mencetak berkas. Teman-teman seangkatannya membantu menuntun, merapikan berkas, dan menjelaskan materi dengan bahasa sederhana. “Tanpa mereka, saya belum tentu bisa sampai ke detik ini,” ungkapnya.

Dari Brebes untuk Pendidikan yang Ramah

Kini, Tion telah mulai mewujudkan cita-citanya. Ia menjalani masa percobaan sebagai tenaga pendidik di SKh-IT Yarfin, Tangerang Selatan, mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan komputer. Ke depan, ia berharap bisa menjadi aparatur sipil negara sekaligus melanjutkan pendidikan magister sambil bekerja.

Kepada teman-teman tunanetra yang ingin kuliah, ia berpesan agar menguasai teknologi—terutama komputer bicara—melatih orientasi dan mobilitas, membangun komunikasi, serta memperbanyak membaca literatur. Ia juga mendorong mereka untuk berani mengambil keputusan dan menyelesaikan kebutuhan sehari-hari secara mandiri.

“Keberanian itu adalah pintu menuju kemudahan. Berani bertanya, maka jalan akan terbuka lebar,” tutupnya.

Di sebuah desa di Bulakamba, Brebes, ada sepasang orang tua buruh tani yang mungkin tak pernah membayangkan anaknya bisa sampai sejauh ini. Tapi malam ini, di Jakarta, anak mereka telah membuktikan satu hal: bahwa cahaya tidak selalu datang dari mata. Kadang, ia datang dari keberanian untuk terus melangkah meski dunia telah gelap.

Penulis: Wasis Waseso | Editor: Wasis Waseso