BREBES, Warta Brebes – Misi menyelamatkan jejak sejarah Brebes resmi dimulai. Satuan Tugas (Satgas) Manuskrip Kuno Brebes mulai menelusuri keberadaan naskah-naskah kuno yang selama ini tersimpan di pondok pesantren.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut program Perpustakaan Nasional RI untuk mendata sekaligus melestarikan manuskrip kuno yang tersebar di berbagai daerah. Di Brebes, potensi terbesar diyakini berada di lingkungan pondok pesantren karena banyak ulama terdahulu meninggalkan karya tulis berupa kitab maupun Al-Qur’an tulisan tangan.
Untuk mempercepat pendataan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Brebes menggandeng Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta pengasuh pondok pesantren dalam rapat teknis yang digelar di Aula Dinarpusda.
Pondok Pesantren Jadi Lokasi Penelusuran Perdana
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Brebes melalui Kepala Bidang Perpustakaan, Kursin, mengatakan pondok pesantren menjadi lokasi penelusuran pertama karena diyakini menyimpan banyak manuskrip bersejarah yang belum pernah didata.
“Pendiri pondok pesantren pada masa lalu banyak menulis kitab sebagai media pembelajaran bagi santri. Kami berharap masih banyak manuskrip kuno yang dapat ditemukan dan didokumentasikan,” ujarnya.
Menurut Kursin, keberadaan manuskrip tersebut bukan sekadar koleksi lama, tetapi menjadi sumber penting untuk memahami sejarah penyebaran Islam, pendidikan, serta perkembangan budaya di Brebes.
Jejak Ulama Masih Tersimpan
Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Kabupaten Brebes, Akrom Jangka Dausat, menjelaskan manuskrip kuno memiliki nilai sejarah yang tinggi karena menyimpan berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat pada zamannya.
Ia menuturkan manuskrip sebelum berkembangnya Islam umumnya berisi mantra-mantra, sedangkan manuskrip yang lahir dari lingkungan pesantren banyak memuat doa, ilmu fikih, tafsir, hingga berbagai ajaran keislaman.
Sementara itu, perwakilan PCNU Kabupaten Brebes, Lukman Hakim, mengungkapkan masih ada sejumlah kitab peninggalan ulama Brebes yang terawat dengan baik. Salah satunya koleksi peninggalan Kiai Idris Sengon yang hingga kini disimpan oleh KH Hudallah Karim, termasuk Al-Qur’an yang ditulis di atas lembaran kulit.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal terbangunnya jaringan pendataan manuskrip kuno di Brebes sehingga warisan para ulama dapat terdokumentasi dan tetap terjaga untuk generasi mendatang,” katanya.
Banyak pendiri pondok pesantren pada masa lalu menulis kitab sebagai media mengajarkan ilmu agama kepada para santri. Kami berharap dapat menemukan naskah-naskah kuno yang selama ini belum terdata,” ujar Kursin.
Menurutnya, pendataan ini tidak hanya bertujuan mengetahui jumlah manuskrip yang masih tersimpan, tetapi juga menjadi langkah awal pelestarian agar naskah tersebut tidak rusak atau hilang.
Manuskrip Simpan Jejak Sejarah
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes melalui Kepala Subbagian Tata Usaha, Akrom Jangka Dausat, menjelaskan manuskrip kuno memiliki nilai sejarah yang sangat penting.
Ia menyebut manuskrip sebelum berkembangnya Islam umumnya berisi mantra-mantra, sedangkan manuskrip yang berkembang di lingkungan pesantren banyak memuat doa, ilmu keagamaan, serta berbagai catatan pendidikan Islam.
“Naskah kuno menjadi sumber informasi penting untuk memahami sejarah dan perkembangan masyarakat pada masa lalu,” katanya.
Kitab Peninggalan Ulama Masih Tersimpan
Perwakilan PCNU Kabupaten Brebes, Lukman Hakim, mengungkapkan sejumlah pondok pesantren di Brebes masih menyimpan kitab-kitab peninggalan para ulama terdahulu.
Salah satunya adalah koleksi peninggalan Kiai Idris Sengon, termasuk Al-Qur’an yang ditulis di atas lembaran kulit beserta sejumlah kitab lainnya yang hingga kini masih dirawat oleh KH Hudallah Karim.
Lukman berharap kegiatan ini menjadi wadah komunikasi antara pondok pesantren, pegiat manuskrip, dan pemerintah sehingga proses penelusuran serta pendataan manuskrip kuno di Kabupaten Brebes dapat berjalan lebih optimal.
























