Hantavirus: Ancaman Baru atau Lama di RI?

JAKARTA, Warta Brebes — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merinci perbedaan signifikan antara Hantavirus tipe HPS yang terdeteksi pada kapal pesiar MV Hondius dengan jenis yang lazim ditemukan di Indonesia. Perbedaan ini mencakup ragam virus, spesies hewan pembawa, area geografis persebaran, hingga potensi tingkat kematian akibat infeksi.

Perbedaan fundamental ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. Ia menjelaskan bahwa kasus pada kapal pesiar tersebut berkaitan erat dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Sebaliknya, kasus-kasus yang telah teridentifikasi di tanah air selama ini umumnya terkait dengan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Menurut Andi, tipe HPS memiliki vektor utama yang berbeda. Virus ini cenderung ditularkan oleh spesies tikus liar yang banyak mendiami kawasan benua Amerika. Beberapa contoh hewan pembawa virus HPS yang sering disebut adalah tikus padi ekor panjang (Oligoryzomys longicaudatus) dan mencit rusa (Peromyscus maniculatus).

"Jenis tikus pembawa HPS berbeda dengan yang ditemukan pada kasus HFRS di Indonesia," tegas Andi Saguni dalam konferensi pers daring yang dilaksanakan pada Senin (11/05). Pernyataannya ini menggarisbawahi pemisahan epidemiologis antara kedua tipe Hantavirus tersebut.

Lebih lanjut, Kemenkes menguraikan bahwa HPS memiliki peta persebaran geografis yang spesifik. Virus tipe ini lazim ditemukan di wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Hingga saat ini, belum ada laporan yang mengindikasikan keberadaan HPS di Indonesia, baik pada populasi manusia maupun hewan tikus lokal.

Sementara itu, HFRS, yang lebih akrab dijumpai di Indonesia, memiliki karakteristik berbeda. Virus HFRS diketahui dibawa oleh tikus-tikus yang umum mendiami lingkungan perkotaan maupun pedesaan di Asia, termasuk Indonesia. Spesies tikus seperti tikus rumah (Rattus rattus) dan tikus got (Rattus norvegicus) seringkali menjadi reservoir virus HFRS.

Gejala klinis yang ditimbulkan oleh HPS dan HFRS juga menunjukkan perbedaan. HPS secara khas menyerang sistem pernapasan. Infeksi virus ini dapat berkembang menjadi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang ditandai dengan gejala mirip flu berat, batuk, sesak napas, hingga pembengkakan paru-paru. Tingkat fatalitas HPS dilaporkan sangat tinggi, mencapai 38% dari kasus yang terinfeksi.

Di sisi lain, HFRS lebih memengaruhi fungsi ginjal dan pembuluh darah. Gejala HFRS meliputi demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, dan seringkali disertai dengan gangguan perdarahan. Dalam kasus yang parah, HFRS dapat menyebabkan gagal ginjal akut dan syok hemoragik. Tingkat kematian HFRS bervariasi, namun umumnya lebih rendah dibandingkan HPS, berkisar antara 1% hingga 15%.

Kenali Perbedaan Hantavirus Tipe HPS dan HFRS di RI - Gaya Hidup

Perbedaan mendasar ini penting untuk dipahami oleh masyarakat dan tenaga kesehatan. Identifikasi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk mencegah perburukan kondisi pasien. Dengan mengetahui jenis Hantavirus yang menyerang, strategi pencegahan dan penanggulangan dapat dirancang secara lebih efektif.

Direktur Jenderal Andi Saguni menambahkan bahwa kewaspadaan terhadap potensi penularan Hantavirus tetap diperlukan, meskipun kedua tipe memiliki karakteristik berbeda. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.

"Kita harus tetap waspada terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis seperti Hantavirus. Pencegahan melalui pengendalian populasi tikus dan praktik kebersihan yang baik adalah kunci utama," ujar Andi. Kemenkes terus memantau perkembangan kasus dan melakukan surveilans aktif terhadap Hantavirus di seluruh wilayah Indonesia.

Langkah-langkah preventif yang direkomendasikan meliputi menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya. Apabila terpaksa membersihkan area yang diduga terkontaminasi, disarankan untuk menggunakan masker dan sarung tangan. Semprotan disinfektan atau larutan pemutih dapat digunakan untuk membersihkan area tersebut.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menyimpan makanan dengan benar agar tidak menarik perhatian tikus. Menutup lubang dan celah pada dinding rumah juga dapat membantu mencegah tikus masuk ke dalam hunian. Upaya pemberantasan sarang tikus secara berkala sangat penting untuk mengurangi risiko penularan Hantavirus.

Kasus pada kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bahwa Hantavirus dapat menyebar melintasi batas geografis. Meskipun tipe HPS belum terdeteksi di Indonesia, kewaspadaan terhadap masuknya virus baru atau mutasi virus yang sudah ada tetap menjadi prioritas Kemenkes.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas laboratorium untuk deteksi dini Hantavirus. Kerjasama lintas sektor, termasuk dengan lembaga penelitian dan organisasi internasional, juga terus dijalin untuk memperkuat sistem surveilans dan respons penyakit. Edukasi masyarakat mengenai Hantavirus dan cara pencegahannya menjadi elemen penting dalam strategi pengendalian penyakit ini.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perbedaan antara HPS dan HFRS, diharapkan masyarakat dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan dan mencegah penularan Hantavirus. Kemenkes mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari ancaman penyakit zoonosis.

Bagikan: