JAKARTA, Warta Brebes— PT Pertamina (Persero) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) guna memperkuat strategi transisi energi di tingkat regional.
Kemitraan ini dikukuhkan melalui nota kesepahaman (MoU) yang berfokus pada penelitian dan studi bersama pengembangan jalur transisi energi berkelanjutan. Penandatanganan kesepakatan ini disaksikan langsung dalam rangkaian acara The Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, pada Rabu (20/5/2026).
Langkah kolaboratif ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi dan akselerasi transisi energi nasional. Guna mencapai misi tersebut, Pertamina secara aktif memperluas kapabilitasnya dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemikir internasional terkemuka seperti ERIA.
Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha (SPPU) Pertamina, Emma Sri Martini, yang didampingi Chief Operating Officer (COO) ERIA, Takayuki Yamanaka, menjadi pihak yang melakukan penandatanganan MoU. “Kemandirian energi dan transisi energi adalah dua strategi yang dijalankan Pertamina secara bersamaan, saling memperkuat satu sama lain. Ini merupakan implementasi dari Dual Growth Strategy Pertamina,” jelas Emma dalam siaran pers yang diterima pada Sabtu (23/5/2026).
Emma memaparkan bahwa Pertamina saat ini menjalankan dua pilar utama dalam strategi bisnisnya: optimalisasi bisnis eksisting yang berbasis energi fosil, serta percepatan pengembangan sektor rendah karbon. Kerjasama dengan ERIA ini akan berfokus pada dua pilar tersebut, meliputi analisis kebijakan dan ekonomi sektor energi, serta pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan.
Pilar Kolaborasi Strategis Pertamina dan ERIA
Pelaksanaan MoU ini akan diinisiasi oleh Pertamina Energy Institute (PEI), sebagai lembaga pemikir internal Pertamina. Kemitraan dengan ERIA diharapkan memberikan dukungan riset kebijakan dan analisis ekonomi energi yang mendalam. “Kami juga akan mendapatkan penguatan kapasitas institusional yang selaras dengan pengembangan portofolio bisnis dan strategi jangka panjang perusahaan,” ujar Emma.
Kolaborasi ini diproyeksikan akan memperkokoh posisi strategis Pertamina di kancah regional, khususnya dalam menghadapi dinamika transisi energi global yang terus berkembang. Dengan berkolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemikir level internasional, kapasitas seluruh pihak yang terlibat akan terus meningkat.
Sinergi Tambahan Pertamina Grup dalam Transisi Energi
Dalam sesi yang sama, Pertamina Grup juga menyepakati beberapa kemitraan strategis lainnya yang relevan dengan agenda transisi energi. Salah satunya adalah kesepakatan Joint Study Agreement (JSA) Carbon Capture and Storage (CCS) Amonia antara PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT Pupuk Indonesia.
Selain itu, terdapat pula kesepakatan Head of Agreement (HoA) CCS Asri Basin antara PHE dan Exxon, serta MoU CCS di Wilayah Kerja Pertamina yang melibatkan PT Pertamina (Persero), PHE, dan ERIA. ERIA sendiri merupakan lembaga think tank internasional yang didirikan pada tahun 2007, dengan fokus pada dimensi ekonomi dan kebijakan di kawasan ASEAN dan Asia Timur, serta didukung penuh oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI).
Kemitraan Pertamina dengan ERIA ini menjadi langkah krusial dalam memperkuat strategi transisi energi regional, mendorong inovasi, dan memastikan keberlanjutan pasokan energi di masa depan.





