BREBES, Warta Brebes – Sudah hampir sepuluh bulan, Jembatan Keruhbehet di Desa Mlayang, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, tergeletak dalam kondisi ambles dan miring.
Sejak Desember 2025, jembatan yang melintang di atas Sungai Keruhbehet itu tak kunjung mendapat perbaikan permanen. Kini, warga harus bertaruh nyawa setiap kali melintas—dan yang paling memilukan, mereka yang sakit harus ditandu menggunakan sarung untuk bisa mencapai fasilitas kesehatan.
Kondisi ini bukan sekadar ketidaknyamanan. Bagi lebih dari 3.000 jiwa di lima pedukuhan, jembatan itu adalah satu-satunya akses vital untuk bekerja, bersekolah, mengangkut hasil pertanian, hingga mendapatkan pelayanan kesehatan.
Warga Sakit Ditandu Sarung, Ibu Hamil Cemas
Kepala Desa Mlayang, Abdul Khafidz, mengungkapkan bahwa warga yang sakit maupun membutuhkan pelayanan darurat kerap mengalami kesulitan akibat akses jembatan yang belum diperbaiki. “Sering terjadi seperti itu. Warga yang sakit harus ditandu karena kendaraan roda empat tidak bisa masuk,” ujar Khafidz, Jumat (18/9/2026).
Salah satunya dialami Yanto, warga RT 01/RW 04 Dukuh Mlayang Luhur, yang harus ditandu menggunakan sarung untuk dibawa berobat ke rumah sakit.
Bukan hanya warga sakit. Ibu hamil yang hendak melahirkan juga menjadi kelompok paling rentan. Mereka harus mendapatkan akses cepat menuju puskesmas atau rumah sakit, namun jembatan yang ambles membuat perjalanan menjadi mimpi buruk.
“Ancaman keselamatan juga dipertaruhkan oleh ibu hamil yang membutuhkan akses cepat ke puskesmas atau rumah sakit saat hendak melahirkan,” tambah Khafidz.
Bukan Kali Pertama, Jembatan Keruhbehet Sudah Nyaris Putus Sejak 2024
Kerusakan Jembatan Keruhbehet bukanlah peristiwa baru. Sejak Juli 2024, jembatan ini sudah dilaporkan nyaris putus. Saat itu, bencana tanah bergerak di Desa Mlayang terus meluas, memperparah kerusakan infrastruktur.
Pada Sabtu (6/12/2025) siang hingga sore, hujan deras yang mengguyur dataran tinggi Brebes selatan membuat debit air Sungai Keruhbehet meningkat drastis. Oprit jembatan yang menghubungkan lima pedukuhan pun ambrol terseret arus sungai. Bahkan, jembatan yang menghubungkan daratan hanya tersisa kurang dari satu meter, itupun penuh dengan retakan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Brebes, Dani Asmoro, setahun silam menyatakan bahwa jembatan darurat akan dibangun untuk memastikan aktivitas warga tetap berjalan aman. “Mulai hari ini kita lakukan penanganan. Jembatan darurat langsung kita bangun,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Untuk jembatan permanen, Dani memastikan akan dikerjakan pada 2026 mendatang. “Penanganan darurat akan menggunakan anggaran tak terduga, sementara jembatan permanen akan dibangun pada tahun anggaran 2026 setelah perhitungan biaya rampung,” pungkasnya.
Janji Rp650 Juta Bupati yang Tak Kunjung Terwujud
Pada awal 2025, Bupati Brebes sempat meninjau jembatan penghubung lain yang rusak dan menjanjikan anggaran perubahan sebesar Rp650 juta untuk memperbaiki Jembatan Mlayang. Namun, hingga September 2026, janji itu belum membuahkan hasil nyata di lapangan.
Masuk APBD 2026, Tapi Pekerjaan Fisik Belum Dimulai
Pemerintah desa telah berulang kali berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menanyakan perkembangan rencana perbaikan.
Berdasarkan keterangan Khafidz, pembangunan Jembatan Keruhbehet telah masuk dalam APBD Kabupaten Brebes Tahun 2026. Namun, hingga pertengahan tahun, belum ada tanda-tanda pekerjaan fisik akan dimulai.
“Sudah masuk di anggaran APBD tahun ini, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda akan dimulai pekerjaan,” kata Abdul Khafidz, Rabu (10/6/2026).
Hingga pertengahan September 2026, kepastian kapan pekerjaan fisik benar-benar dimulai masih belum diperoleh.
“Padahal perbaikan Jembatan Keruhbehet juga telah masuk dalam APBD Kabupaten Brebes Tahun 2026. Namun, hingga kini pemerintah desa belum memperoleh kepastian kapan pekerjaan fisik benar-benar dimulai,” jelasnya.
Puluhan Pengendara Motor Terjatuh
Kerusakan jembatan tidak hanya menyulitkan warga saat menghadapi kondisi darurat. Struktur jembatan yang miring dan ambles telah memicu kecelakaan. Sejumlah pengendara sepeda motor dilaporkan terjatuh ketika mencoba melewati badan jembatan yang rusak.
“Entah berapa puluh warga pengendara motor yang jatuh akibat jembatan yang rusak tersebut. Sudah sering dan banyak.”
Kondisi ini membuat warga semakin resah. Setiap hari, kerusakan jembatan terus bertambah seiring tingginya intensitas penggunaan. Warga khawatir jika tidak segera ditangani, kerusakan dapat semakin parah dan berpotensi menyebabkan korban jiwa.
“Harapan kami jembatan segera diperbaiki, sebelum ada warga yang menjadi korban berikutnya,” tutur Warso, warga Mlayang
Hampir Setahun Menunggu, Warga Berharap Kepastian
Bagi warga Mlayang, hampir setahun menunggu perbaikan sudah cukup panjang. Mereka berharap jembatan segera diperbaiki agar akses vital kembali aman dan kondisi darurat kesehatan tidak lagi memaksa warga menandu pasien melewati jembatan yang membahayakan.
Jembatan Keruhbehet merupakan akses vital bagi warga di lima pedukuhan dengan jumlah penduduk lebih dari 3.000 jiwa.
Setiap hari, warga mengandalkan jalur tersebut untuk bekerja, bersekolah, berdagang, mengangkut hasil pertanian, mendapatkan pelayanan kesehatan hingga mengurus keperluan pemerintahan desa.
Saat ini, struktur jembatan yang ambles dan miring membuat setiap orang yang melintas harus ekstra hati-hati.
Kendaraan roda empat tidak dapat melewati jembatan, sehingga akses tersebut hanya bisa digunakan pejalan kaki dan sepeda motor.
Warga berharap pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun instansi terkait segera merealisasikan perbaikan permanen demi keselamatan bersama.


























