BREBES, Warta Brebes – Ancaman kekeringan mulai terasa di wilayah selatan Kabupaten Brebes. Memasuki pertengahan musim kemarau, ratusan warga di empat pedukuhan Desa Bantarkawung, Kecamatan Bantarkawung, mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu memaksa Pemerintah Desa Bantarkawung mengajukan bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes. Merespons permohonan tersebut, BPBD langsung menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Empat pedukuhan yang mulai mengalami krisis air bersih yakni Dukuh Pakiringan, Dukuh Banteng, Dukuh Prapatan, dan Dukuh Gempol.
Kepala Desa Bantarkawung, Muhammad Rivai, mengatakan menurunnya debit sumber air dan sumur warga menjadi penyebab utama munculnya kesulitan air bersih di kawasan dataran tinggi tersebut.
“Untuk kebutuhan konsumsi, warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Karena debit air sumur terus berkurang,” kata Rivai, Kamis (16/7/2026).
Sumur Menyusut, Air Cepat Keruh
Menurut Rivai, sejumlah sumber air yang masih tersedia kini hanya mampu memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci. Sementara untuk kebutuhan memasak dan air minum, banyak warga mulai mengalami kesulitan.
Kondisi bertambah parah dengan kualitas air sumur yang semakin menurun akibat debit yang terus menyusut.
Johari (49), warga Dukuh Pakiringan, mengaku sudah merasakan dampak kemarau sejak awal Juni lalu. Sumur yang selama ini menjadi andalan keluarganya kini tidak lagi mampu menyediakan air dalam jumlah cukup.
“Sebelumnya pakai air sumur. Sekarang airnya menyusut. Baru diambil beberapa ember saja sudah keruh,” ujarnya.
Karena kesulitan mendapatkan air layak konsumsi, ia terpaksa meminta bantuan tetangga yang masih memiliki cadangan air.
“Kalau untuk minum dan memasak sering harus cari ke tempat lain,” katanya.
BPBD Mulai Salurkan Bantuan
Melihat kondisi yang mulai mengkhawatirkan, Pemerintah Desa Bantarkawung segera berkoordinasi dengan BPBD Brebes.
Permohonan tersebut langsung berbuah manis dengan pengiriman bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
“Bantuan air bersih sudah mulai disalurkan sejak kemarin,” kata Rivai.
Langkah cepat itu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Brebes Selatan Masuk Daerah Rawan Kekeringan
Koordinator Satgas Penanggulangan Bencana BPBD Brebes Pos Bumiayu, Budi Sujatmiko, mengatakan berkurangnya intensitas hujan selama hampir satu bulan terakhir menjadi tanda awal yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah perbukitan di Brebes Selatan menjadi kawasan yang paling rentan mengalami krisis air bersih ketika musim kemarau berlangsung panjang.
“Sejumlah wilayah selatan Kabupaten Brebes, terutama daerah perbukitan yang memiliki keterbatasan sumber air, memang rentan mengalami krisis air bersih saat musim kemarau,” ujarnya.
BPBD saat ini terus memantau perkembangan kondisi di sejumlah kecamatan selatan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan.
Pertanian Mulai Lebih Siap
Meski sektor rumah tangga mulai terdampak, Rivai menyebut kondisi pertanian saat ini relatif lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Petani telah memperoleh bantuan pompa air dan fasilitas penampungan dari Kementerian Pertanian yang ditempatkan di kawasan Cibangbung.
“Sementara untuk pertanian masih bisa tertangani dengan bantuan mesin sedot air dan penampungan yang sudah tersedia,” jelasnya.
Namun demikian, pemerintah desa berharap hujan segera turun agar krisis air bersih tidak semakin meluas ke wilayah lain di Bantarkawung maupun kecamatan sekitar.


























