BERITA BREBES TERKINI
Memuat artikel Warta Brebes...
Memuat artikel Warta Brebes...
Berita Brebes
Gaya Hidup
Healing
Jarerika
Keuangan
Nasional
Teknologi
Warta Pantura

Di Balik Pembunuhan Tuti Awaliyah: KDRT yang Tak Pernah Terdengar, Brebes yang Darurat Kekerasan

BREBES, Warta Brebes – Darisah (60) duduk di ruang tamu rumah anaknya di Desa Bojong, Kecamatan Jatibarang. Matanya bengkak. Suaranya serak. Di hadapannya, kursi kosong yang dulu selalu diisi Tuti Awaliyah, anak semata wayangnya. “Dia anak saya satu-satunya, tidak ada lagi,” kata Darisah, Selasa (13/10/2026).

Tuti tewas dibunuh suaminya sendiri, Darwono (44), pada Senin (12/10/2026) dini hari.

Luka dada sedalam 15 sentimeter mengakhiri hidup perempuan 39 tahun itu. Tapi kematian Tuti bukan cerita yang dimulai pada Senin dini hari. Ia adalah akhir dari cerita panjang yang tak pernah benar-benar didengar.

Kekerasan yang Berlangsung Bertahun-tahun

Darisah mengungkapkan bahwa anaknya sering mengadu mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Korban kerap disundut rokok, dipukul, dan dikuntit ke mana pun ia pergi. Penganiayaan terjadi baik saat di perantauan Jakarta maupun ketika pulang ke kampung halaman.

“Anak saya dituduh selingkuh. Saya sudah berkali-kali tanya anak saya katanya tidak selingkuh. Kemana-mana pergi selalu dikuntit. Anak sering ke sini menangis, sering disundut rokok dan dipukul,” tutur Darisah.

Rekam jejak kekerasan itu bukan rahasia. Keluarga mengetahuinya. Tetangga mungkin mendengarnya. Tapi tak ada laporan resmi, tak ada perlindungan yang datang. Tuti bertahan. Ia terus merantau, membuka warteg di Jakarta, dan setiap bulan mengirim uang untuk ibunya. Ia memilih diam, seperti ribuan perempuan lain yang terjebak dalam kekerasan yang sama.

Brebes dan Bayang-Bayang Darurat Kekerasan

Kasus Tuti bukan peristiwa tunggal. Ia adalah bagian dari pola yang lebih besar dan mengkhawatirkan. Data Komnas Perempuan mencatat kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Brebes terus meningkat. Pada 2023 tercatat 83 kasus, naik menjadi 88 kasus pada 2024. Hingga pertengahan 2025, sudah ada 54 aduan yang masuk.

Anggota Komisi IV DPRD Brebes, Nafisatull Khoeriyah, menyebut situasi ini sebagai “darurat kekerasan.” Brebes menempati peringkat ke-12 dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah dalam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut Nafisatull, lonjakan ini bukan terjadi instan, melainkan akibat runtuhnya kontrol sosial dan melemahnya pengawasan kolektif di tengah masyarakat.

Data nasional memperkuat gambaran itu. Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2024 menunjukkan bahwa 25,7 persen perempuan Indonesia mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk sepanjang hidup mereka. Namun hanya 11,3 persen yang melaporkan kekerasan fisik atau seksual oleh pasangan ke institusi resmi. Stigma sosial, ketergantungan ekonomi, rasa takut akan pembalasan, dan minimnya akses layanan menjadi alasan utama mereka memilih diam.

Perantau, Warteg, dan Kerentanan yang Tersembunyi

Tuti dan Darwono adalah bagian dari gelombang perantau Brebes yang mengadu nasib di Jakarta. Seperti ribuan lainnya, mereka membuka warung tegal—usaha yang menjadi tulang punggung ekonomi banyak keluarga dari pesisir utara Jawa. Sepulang mudik dua pekan lalu, Darwono sempat sakit dan dirawat di rumah sakit. Rencananya hari itu ia akan kontrol. Tapi rencana itu batal karena ia justru menghabisi nyawa istrinya.

Dalam banyak kasus KDRT pada keluarga perantau, kekerasan berlangsung dalam ruang tertutup. Jauh dari keluarga besar, jauh dari tetangga yang mengenal. Di Jakarta, mereka hidup dalam lingkaran kecil: warung, dapur, kamar sewa. Ketika pertengkaran terjadi, tak ada yang mendengar. Ketika kekerasan berulang, tak ada yang menolong.

Ketergantungan ekonomi memperparah situasi. Tuti adalah pengusaha warteg yang mencari nafkah utama. Tapi justru posisi itu membuatnya rentan. Pelaku merasa kehilangan kontrol, cemburu buta, dan menuduh korban berselingkuh—tuduhan yang menurut Darisah tak pernah terbukti.

Pelaku Menelepon Perangkat Desa

Peristiwa berdarah itu terungkap setelah Darwono menghubungi Sugeng, perangkat Desa Bojong, sekitar pukul 03.00 WIB. “Geng, saya baru bunuh istri saya. Tolong lapor ke perangkat desa polisi,” kata Darwono seperti ditirukan Kepala Desa Bojong, Tasdik.

Ketika warga mendatangi rumah itu, korban ditemukan tergeletak di lantai kamar dalam posisi telungkup. Darwono ditemukan di atas kasur dengan luka sayat di bagian tangan. Ia diduga mencoba mengakhiri hidupnya setelah membunuh istrinya.

Kapolsek Jatibarang, AKP Kasam, mengatakan motif sementara adalah kecemburuan. “Motifnya sementara karena pelaku cemburu.” Namun di balik motif yang terlihat sederhana itu, tersembunyi pola kekerasan yang telah berlangsung lama.

Luka Dada Sedalam 15 Sentimeter

Autopsi yang dilakukan tim forensik Dokkes Polda Jateng di RSUD Brebes mengungkap empat luka di tubuh Tuti: kepala, leher, dada, dan perut. Dokter Forensik, dr. Istiqomah, mengatakan penyebab kematian adalah luka pada bagian dada sedalam 15 sentimeter.

Darisah tak mampu membayangkan ketika mengikuti petugas kepolisian mendobrak pintu rumah anaknya dan melihat korban dengan kondisi penuh luka. Ia menuntut pelaku dihukum mati. “Pelaku harus dihukum mati karena tega membunuh anaknya dengan cara yang sadis,” katanya.

Namun di balik tuntutan itu, ada pertanyaan yang lebih besar: mengapa kekerasan yang berlangsung bertahun-tahun tak pernah sampai ke meja hukum? Mengapa tak ada yang melindungi Tuti sebelum golok itu menebas?

Ketika Rumah Menjadi Tempat Paling Berbahaya

Kasus Tuti bukan kasus pertama di Brebes. Pada Mei 2025, Wantiyo (28) membunuh mantan istrinya, Santi (22), di kebun tebu Ketanggungan. Ia divonis 11 tahun penjara. Pada Oktober 2026, kasus serupa terjadi di Randusanga Kulon—seorang suami membacok istri, mertua, dan anaknya sendiri. Pola yang sama berulang: kecemburuan, kekerasan, kematian.

Brebes memang sedang tidak baik-baik saja. DPRD menyebutnya darurat. DP3KB terus menerima aduan. Puskesmas di beberapa kecamatan bahkan mulai melakukan deteksi dini KDRT. Tapi semua itu belum cukup. Selama perempuan seperti Tuti masih memilih diam karena takut, malu, atau tak tahu ke mana harus melapor, kekerasan akan terus berulang.

Di rumah Bojong itu, kursi Tuti masih kosong. Darisah masih menangis. Dan di luar sana, di ribuan rumah lain di Brebes, mungkin ada perempuan lain yang sedang menahan tangis, berharap ada yang mendengar sebelum terlambat.

Penulis: Bangkit Rinakit | Editor: Wasis Waseso